Jumat, 20 Februari 2015

KARENA AKU SHOLAT

“Kenapa kamu tidak ikut kami nggosip saja sini?” – karena aku sholat
“Kenapa kamu tidak pacaran?” – karena aku sholat
“Kenapa kamu tidak nonton bola?” – karena aku sholat
(Ust. Syatori)
SEJATINYA , hidup adalah “berjalan”. Otomatis, karena kita berjalan, maka ada yang ditinggalkan dan ada yang dituju. Implementasinya, berjalan berarti meninggalkan dunia untuk menuju akhirat. Senantiasa menjadikan akhirat satu-satunya tujuan dan dunia hanya sebagai jembatan menujunya. Bagaimana jika orang yang hidup namun “tidak berjalan”?. Orang masih rakus terhadap dunia. Masih silau dan mudah terpana akan fatamorgana dunia. Niscaya hingga saatnya dia meninggal pikiran dan jiwanya masih terpaut pada dunia.
Lalu, ada apa dengan shalat?
Shalat adalah kunci menjemput sukses ukhrawi yang paling utama agar kita menjadi pribadi yang berambisi akhirat. Shalat juga merupakan amalan yang akan di hisab pertama kali. Oleh karena itu, mari senantiasa menjadikan shalat sebagai kendaran utama menuju Surga-Nya. Menjadikan Shalat menjadi benteng utama dari sikap yang munkar.
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Ankabut : 45). Maksud dari fakhsya’ (keji) berarti perbuatan buruk yang hanya dilakukan oleh binatang. Sedangkan mungkar adalah perbuatan yang diingkari oleh hati nurani. Naudzubillah.
Selama kita shalat, masihkah akan melakukan gerakan diluar rukun shalat?, Ketika kita sedang shalat, apakah kita akan membukasms saat terdengar notifikasi pesan? Tidak, ‘kan lagi shalat. Ketika kita sedang shalat apakah kita akan facebook-an ? Tidak, ‘kan lagi shalat. Ketika kita sedang shalat apakah kita akan makan, meski terhidang makanan lezat di depan kita? Sekali lagi Tidak, ‘kan lagi shalat.
Begitulah shalat, akan mencegah dari perbuatan yang sia-sia dan tidak sepantasnya untuk dilakukan karena tidak ada pelajaran yang berguna didalamnya. Oleh Imam Ibnu Jahim, “Barang siapa yang shalatnya tidak mencegah pada hal yang mungkar, dia tidak akan semakin dekat namun jauh dari Allah”.
Hingga akan datang suatu generasi yang senantiasa memosisikan setiap langkah, perkataan dan perbuatan yang dilakukannya seolah-olah dirinya sedang dalam kondisi shalat. Oleh karena itu Ia tidak akan melakukan hal yang sia-sia selama shalat tersebut. Semoga dengan shalat, selalu menghidupkan kehidupan kita. Aamiin. [ludiana santi]

Orang yang Takut & Hasbunallah Wani’mal Wakil

Ja’far Ashiddiq Ra. Berkata tentang ketakutan: “Aku terkesima kepada orang yang merasa ketakutan kemudian mengucapkan ‘Hasbunallah wani’mal wakil’ (cukuplah Allah sebagai penolong kami dan sebaik-baik tempat berlindung). Sesungguhnya setelah itu aku mendengar Allah menjawab: ‘Maka mereka kembali dengan ni’mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar,” (QS. Ali Imran:174).
Maka sesungguhnya Ja’far Asshiddiq Ra. telah memberikan resep untuk rasa takut dengan mengucapkan “hasbunallah wa ni’mal wakil” karena kekuatan Allah melebihi kekuatan lain yang membuatmu takut, dan selama itu pula kamu ucapkan “hasbunalla wa ni’mal wakil” dalam menghadapi segala sesuatu yang menakutkanmu.
Tentang kemuraman atau kegalauan
Kegalauan berbeda dengan rasa takut, karena takut adalah  kekhawatiran diri karena sesuatu yang diketahui penyebabnya, sedangkan galau adalah depresi atau kekhawatiran diri karena sesuatu yang kadang tidak diketahui penyebabnya karena hal tersebut merupakan kondisi psikologi seseorang yang semrawut.
Dan aku terkesima kepada orang yang dilanda kegalauan, tetapi dia tidak cemas. Lalu dia mengucapkan “La ilaha Illah Anta Subhanaka inni kuntu minadzholimin” (tidak ada tuhan selain Engkau ya Allah, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang berbuat zhalim). Maka sesungguhnya setelah itu aku mendengar Allah menjawab: “Maka Kami telah mengabulkan do’anya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”(QS. Al Anbiya:88)
tetapi terkabulnya do’a dan keselamatan ini tidak hanya dikhususkan kepada orang tersebut, akan tetapi sebagaimana sabda Allah SWT “dan Demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman” yaitu berarti orang-orang mu’min pun juga mendapatkan keselamatan.
Tentang tipu daya
Orang yang terpedaya yaitu orang yang diperdaya oleh orang lain dan tidak punya kekuatan untuk menghadapi tipu dayanya.
Dan aku terkesima dengan orang yang terpedaya oleh tipu muslihat orang lain tetapi tidak gentar dan mengucapkan kalam Allah: “ Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”.(QS. Al Mu’min:44)
Sesungguhnya setelah itu aku mendengar Allah menjawab: “ Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka”.(QS. Al Mu’min:45)
Tentang mengharap dunia dan segala perhiasannya
Dan aku terkesima kepada orang yang mengharapkan dunia dan segala perhiasannya kemudian dia mengucapkan sabda Allah: “MAASYAA ALLAH, LAA QUWWATA ILLAA BILLAH” (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah) (QS Al Kahfi:39)
Sesungguhnya setelah itu aku mendengar Allah menjawab: “Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini)” (QS Al Kahfi:39-40). [Diterjemahkan oleh Dedih Mulyadi, Lc]

Oleh: Syeikh Muhammad Mutawalli Sya’rawi

Imam Syafi’i, dan Aku Pun Menangis …

Oleh: Salim A. Fillah
SATU saat Imam asy Syafi’i ditanya mengapa hukum bagi pezina sedemikian beratnya?
Wajah asy-Syafi’i memerah, pipinya rona delima. “Karena,” jawabnya dengan mata menyala. “Zina adalah dosa yang bala’ akibatnya mengenai semesta keluarganya, tetangganya, keturunannya hingga tikus di rumahnya dan semut di liangnya.”
Ia ditanya lagi, dan mengapa tentang pelaksanaan hukuman itu? Allah berkata, “Dan janganlah rasa ibamu pada
mereka menghalangimu untuk menegakkan agama!”
Asy-syafi’i terdiam. Ia menunduk. Ia Mmenangis setelah sesak sesaat, ia berkata, “Karena zina seringkali datang dari cinta dan cinta selalu membuat kita iba, dan syaitan datang untuk membuat kita lebih mengasihi manusia daripada mencintai-Nya”
Ia ditanya lagi, “Dan mengapa, Allah berfirman pula, ‘Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang – orang yang beriman’, bukankah untuk pembunuh, si murtad, pencuri Allah tak pernah mensyaratkan menjadikannya tontonan?”
Janggut Asy-Syafi’i telah basah, bahunya terguncang – guncang. “Agar menjadi pelajaran.”
Ia terisak, “Agar menjadi pelajaran.”
Ia tersedu, “Agar menjadi pelajaran.”
Ia tergugu. Lalu ia bangkit dari duduknya. Matanya kembali menyala, “Karena ketahuilah oleh kalian. Sesungguhnya zina adalah hutang-hutang, sungguh hutang dan salah seorang dalam nasab pelakunya pasti harus membayarnya!” []

Kutulis dalam menangis, semoga menjadi pengingat yang terwaris
Doakan saudara kita yg hari ini berjuang menutup Dolly. -salim a. fillah-

Janganlah Benci pada Orang Berdosa

SETIAP manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan kekhilafan. Semua itu menjadi hal yang wajar, ketika seseorang mulai menyadari apa yang dilakukannya salah, dan mulai bangkit dari kesalahan, hingga tidak melakukannya kembali. Tapi, menjadi suatu hal yang tidak baik jika ketika ia tahu bahwa itu adalah salah, dan malah ia melakukannya kembali.
Manusia tidak pernah luput dari dosa. Tapi, sebagian orang banyak menganggap bahwa dirinya suci, terhindar dari dosa. Sehingga, ketika ia melihat orang yang melakukan perbuatan dosa, ia akan menjauhi, bahkan mencelanya. Lalu apakah itu juga tidak termasuk dosa?
Jika kita melakukan demikian kepada orang yang sedang melakukan kesalahan, itu sama saja kita tidak perduli terhadap sesama. Sedangkan Rasulullah mencontohkan kepada kita suatu jalan kebaikan. Membawa orang yang tersesat agar kembali ke jalan yang benar. Beliau rela dihina dan dicaci maki oleh orang yang akan diajaknya ke jalan yang benar, hanya untuk menyelamatkan saudara sesama manusia dari siksa api neraka.
Hanya yang salah di kita ini, banyak orang yang malah mencela orang yang berbuat dosa. Padahal, seharusnya kita mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Kita harus mengingatkan orang tersebut bahwa perbuatannya salah. Jika kita tidak mampu melakukan itu dengan tindakan, maka kita bisa melakukannya dengan berdoa. Itulah ikhtiar yang dapat kita lakukan, dengan selemah-lemahnya iman.
Spiritual Business Consulting dan Presiden Republik Motivasi Indonesia Guz Reza, mengatakan bahwa, “Jangan kau benci mereka orang yang berdosa tapi kasihanilah perbuatan mereka, doakan mereka, ‘Tuhan aku yakin surga-Mu bukan teruntuk mereka yang suci, bukalah pintu-Mu untu mereka yang berdosa namun menyesali…, kepada-Nyalah semua dikembalikan’.”
Maka dari itu, jangan kita hindari orang yang telah berbuat dosa. Kita ingatkan dia untuk kembali ke jalan yang diridhai. Dan ketika ia telah menyadari kesalahannya dan ingin kembali ke jalan yang benar, jangan dijauhi. Tapi, rangkulah, pegang erat keyakinannya akan kebenaran jalan yang ditempuhnya. Bantulah ia untuk menemukan jalan terbaiknya. Insya Allah, kemaslahatan bersama akan terjalin di antara umat manusia yang saling peduli antar sesama. Wallahu’alam. [Sumber: Tuha, Aku Selingkuh Dulu Ya/Karya: Rahmat Susanto/Penerbit: Zaga Media]

Inilah Larangan Mengharapkan Mati dengan Segera

SIAPAPUN pasti pernah merasakan kehampaan dalam menjalani kehidupan ini bahkan sampai berputus asa. Bukan tidak mungkin sikap putus asa dikarenakan permasalahan yang amat hebat mengganggu pikirannya atau sedang ditimpa kemalangan. Ada sebagian dari orang yang berputus asa, mengharapkan kematian.
Padahal Rasulullah SAW mengharamkan setiap umatnya untuk menghendaki kematian.
Karena bagaimanapun juga, kehidupan itu jauh lebih baik daripada kematian. Apalagi kehidupan seorang muslim, dengan kematian maka amalannya akan berakhir, sementara jika umurnya masih ada maka itu tidak menambah bagi dia kecuali semakin memperbanyak amal salehnya.
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits:“Janganlah seseorang mengharapkan kematian dan janganlah dia berdoa untuk mati sebelum datang waktunya. Karena orang yang mati itu amalnya akan terputus, sedangkan umur seorang mukmin tidak akan bertambah melainkan menambah kebaikan,” (HR. Muslim)
Tidak seyogianya seseorang meminta kematian tanpa ada sebab yang dibenarkan. Di antara sebab yang dibenarkan adalah ketika seorang yakin jika agamanya akan terfitnah dan adanya indikasi yang kuat bahwa cobaan yang dihadapinya akan menjadikannya menyimpang dari agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:
لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
“Janganlah seseorang di antara kalian mengharapkan kematian karena tertimpa kesengsaraan. Kalaupun terpaksa ia mengharapkannya, maka hendaknya dia berdoa, “Ya Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan tersebut memang lebih baik bagiku dan matikanlah aku apabila kematian tersebut memang lebih baik untukku,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pada keadaan-keadaan tertentu dimana seorang muslim menderita dengan penderitaan yang sangat, dia tidak mati tapi juga tidak hidup dengan baik (seperti orang yang tertimpa penyakit yang sangat kronis yang sangat menyiksa dia akan tetapi dia tidak kunjung meninggal, misalnya), maka kalaupun dia ingin meminta kematian kepada Allah, hendaknya dia berdoa dengan doa yang tersebut dalam hadits Anas di atas.
Seorang mukmin selalu meminta yang terbaik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena seseorang tidak tahu apakah setelah kematian kondisinya lebih baik atau bahkan sebaliknya. Dengan kematian, seseorang sudah terputus dari beramal dan tidak ada lagi kesempatan untuk bertaubat dan menyesali kesalahan.
Mengharapkan kematian bukanlah pilihan yang tepat untuk seorang Muslim. Maka dari itu tetaplah mengkondisikan diri dengan bertobat kepada Allah SWT, mencari solusi adalah salah satu kuncinya untuk menumbuhkan semangat hidup.
Dengan ibadah dzikir atau dengan mengaji diri dengan kajian islam akan senantiasa membangun semangat hidup lebih baik. insyaAllah. [Sumber: Hadits Budi Luhur/Karya: Muhammad Said/Penerbit: Putra Al Ma’arif]

Inilah Azab Memutus Silaturahim

IBNU Hajar al-‘Asqani mengisahkan bahwasanya ada seorang laki-laki yang sangat kaya hendak menunaikan ibadah haji. Sebelum berangkat menuju Baitullah, ia menitipkan hartanya sebanyak 1000 dinar kepada seseorang yang di kalangan masyarakat terkenal amanah dan shalih.
 Namun, sepulang dari Makkah, orang kaya tersebut mendapatkan kabar bahwa orang yang dititipi telah meninggal dunia. Maka dia menemui ahli waris orang tersebut guna menanyakan harta yang telah ia titipkan. Akan tetapi, para ahli waris tidak ada yang mengetahui perihal harta itu. Lalu, ia menemui salah satu ulama Makkah dan berkonsultasi kepadanya.
Ulama itu memberikan saran,“Nanti malam, saat orang-orang telah terlelap tidur, datanglah ke sumur zam-zam. Arahkan pandanganmu ke sumur itu dan panggillah nama orang yang kamu titipi harta. Jika ia orang baik-baik, ia akan menjawab panggilanmu.”
Kemudian, orang kaya itu menjalankan saran tersebut. Namun, ia tak mendengar suara apapun. Ia kembali menemui ulama Makkah dan menceritakan pengalamannya selama di dekat sumur zam-zam.
“Aku sudah menjalankan saran Anda. Aku berkali-kali memanggil yang kutitipi harta. Namun, aku tak mendengar suaranya sama sekali,” kata orang kaya.
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un,” kata ulama Makkah.
“Aku khawatir jika orang yang kamu titipi harta adalah ahli neraka. Sekarang, pergilah ke Yaman. Di sana, ada Sumur Barhut. Dikatakan Barhut karena dianggap sebagai mulut neraka Jahannam. Pergilah ke Sumur tersebut jika malam telah larut,” kata ulama Makkah.
Lalu, orang kaya tersebut bergegas ke Yaman. Kali ini, ia benar-benar mendengar suara orang yang ia titipi harta. Lalu, ia bertanya padanya, “Di manakah kamu menyimpan hartaku?”
“Aku pendam hartamu di rumah seseorang dekat dengan rumahku. Datangilah tempat itu dan ambillah hartamu.”
Karena penasaran, orang kaya tersebut bertanya, “Wahai Tuan, atas saran seorang ulama di Makkah, aku memanggil-manggil namamu di sumur zam-zam, namun aku tidak mendengar suara anda. Lalu, ia menyarankan untuk memanggil nama anda di sumur Bahut ini. Dan Anda merespon panggilanku. Ini pertanda tidak baik, padahal aku mengenal Anda sebagai seorang yang shalih.”
“Benar, semenjak dimakamkam, aku sering mendapat azab, kecuali pada saat ini, guna merespon panggilanmu.”
“Mengapa bisa demikian?” tanya orang kaya.
“Saat hidup di dunia, aku memang rajin beribadah, sehingga orang mengenalku sebagai orang shalih. Namun, ada satu sikapku yang menyebabkan aku menderita di alam kubur. Aku memiliki saudara perempuan yang fakir. Karena gengsi, aku enggan bertemu dengannya. Aku khawatir orang-orang mengolok-olok aku jika mereka tahu aku memiliki saudara yang fakir. Sikapku itulah yang menyebabkan aku mendapat azab di alam kubur.” [reni/islampos]
Sumber : Saifudin, Ahmad. 2014. Islam Itu Penuh dengan Cinta: Yogyakarta. Pustaka Almajaya.

KAPAN ISTILAH SUNNI MUNCUL ?

KENAPA sih harus ada Sunni-Syiah? Bukankah Islam cuma satu? Apa itu Sunni? Apa itu Syiah? Kenapa harus menyebut diri Sunni? Segudang tanya tersebut kini ramai diutarakan pasca bentrok aliran Syiah dengan umat muslim di Indonesia mengemuka belakangan ini.
Ketua MUI, KH Kholil Ridwan pernah menekankan bahwa permasalahan Sunni Syiah sudah berlangsung ribuan tahun semenjak zaman Sayyidina Ali menjadi khalifah, bahkan lebih kental lagi saat terbunuhnya Sayyidina Husain, “Sebelum itu gak ada istilah Sunni-Syi’i,” ujarnya.
Dahulu di zaman Rasulullah SAW. kaum muslimin dikenal bersatu. Saat itu, tidak ada golongan ini dan golongan itu.. Semua umat Islam bersatu dibawah pimpinan dan komando Rasulullah SAW. Bila ada masalah atau perbedaan pendapat di antara para sahabat, mereka langsung datang kepada Rasulullah SAW. Itulah yang membuat para sahabat saat itu tidak sampai terpecah belah, baik dalam masalah akidah, maupun dalam urusan duniawi.
Kemudian setelah Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak dan puncaknya terjadi saat Sayyidina Ali menjadi khalifah. Akan tetapi, perlu ditekankan bahwa perpecahan tersebut hanya bersifat politik, sedang akidah mereka tetap satu yaitu akidah Islamiyah, meskipun saat itu benih-benih penyimpangan dalam akidah sudah mulai ditebarkan oleh Abdullah bin Saba’, seorang agen Yahudi yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai pencetus faham Syiah (Rawafid).
Tapi setelah para sahabat wafat, benih-benih perpecahan dalam akidah tersebut mulai membesar, sehingga timbullah faham-faham yang bermacam-macam yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW.
Saat itu muslimin terpecah dalam dua bagian, satu dikenal sebagai golongan-golongan ahli bid’ah, atau kelompok-kelompok sempalan dalam Islam, seperti Mu’tazilah, Syiah (Rawafid), Khowarij dan lain-lain. Sedang golongan lainnya adalah golongan terbesar, yaitu golongan orang-orang yang tetap berpegang teguh kepada apa-apa yang dijalankan oleh Rasulullah SAW bersama sahabat-sahabatnya.
Golongan terakhir inilah yang kemudian menamakan golongannya dan akidahnya Ahlus Sunnah Waljamaah. Jadi golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah golongan yang mengikuti sunnah-sunnah nabi dan jamaatus shohabah.
Definisi ini disimpulkan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang golongan yang selamat dari kesesatan di dunia dan selamat dari neraka di akherat.
قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى
Para shahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai rasulullah?”. Beliau bersabda, “Orang yang mengikuti ajaranku dan shahabatku dalam beragama” (HR Tirmidzi no 2641 dari Abdullah bin ‘Amr, dinilai hasan oleh al Albani).
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah adalah akidah Islamiyah yang dibawa oleh Rasulullah dan golongan Ahlus Sunnah Waljamaah adalah umat Islam. Lebih jelasnya, Islam adalah Ahlus Sunnah Waljamaah dan Ahlus Sunnah Waljamaah itulah Islam. Sedang golongan-golongan ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah, Syiah(Rawafid) dan lain-lain, adalah golongan yang menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW yang berarti menyimpang dari ajaran Islam.
Perlu diketahui pula bahwa istilah ahlus sunnah juga mengandung dua makna, baik yang bermakna luas maupun sempit. Mengenai makna luas dari ahlus sunnah, penulis buku al Wajiz fi ‘Aqidah al Salaf al Shalih Ahlis Sunnah wal Jamaah pada halaman 34 mengatakan:
“..Makna yang lebih luas untuk istilah ahlus sunnah wal jamaah adalah mencakup semua orang yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim selain Rafidhah (baca:syiah). Terkadang pula istilah ahlis sunnah digunakan untuk sebagian ahli bid’ah karena mereka bersesuaian dengan ahli sunnah yang murni dalam beberapa permasalahan akidah dan berlawanan dengan akidah aliran-aliran sesat.
Akan tetapi penggunaan istilah ahli sunnah dengan pengertian ini lebih jarang dipergunakan oleh para ulama ahli sunnah karena hanya terbatas pada beberapa permasalahan akidah dan berlawanan dengan beberapa aliran sesat tertentu. Misalnya adalah penggunaan istilah ahli sunnah sebagai lawan dari rafidhah (baca:syiah) terkait masalah khilafah dan sikap terhadap para shahabat Nabi dan perkara akidah lainnya”.
Sedangkan pengertian sempit untuk istilah ahli sunnah orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran Nabi dan para shahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dan meniti jalan mereka baik dalam permasalahan akidah, perkataan dan perbuatan. Mereka adalah orang-orang yang komitmen untuk mengikuti Nabi dan menjauhi bid’ah. Mengikuti jalan mereka dalam beragama adalah hidayah sedangkan menyelisihi mereka adalah kesesatan.
Dengan demikian akidah Ahlus Sunnah Waljamaah itu sudah ada sebelum Allah melahirkan generasi-generasi soleh seperti Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Syafii dan Imam Hambali. Begitu pula sebelum timbulnya ahli bid’ah atau sebelum timbulnya kelompok-kelompok sempalan, seperti aliran sesat Syiah. (Pz/Islampos)